Kota Malang, PARLEMEN MALANG – Suasana haru menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kasin, Kota Malang, Jumat (21/11/2025) siang. Di antara ratusan pelayat yang memenuhi area pemakaman, terlihat Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, berdiri paling dekat dengan liang lahat, menggenggam cucunya sambil berusaha tegar mengantarkan kepergian perempuan yang telah menemaninya puluhan tahun: Almarhumah Hj. Hanik Andriani Wahyu Hidayat.
Kepergian sang istri tercinta pada Kamis (20/11/2025) malam, di usia 58 tahun, meninggalkan luka yang tampak sulit tersembuhkan. Di sisi Wahyu, sang putri tampak setia mendampingi. Namun ketika jenazah diturunkan ke peristirahatan terakhir, ketegaran yang sejak pagi ia bangun runtuh begitu saja.
Tangis Wahyu pecah—bukan sebagai Wali Kota, tetapi sebagai seorang suami yang kehilangan separuh jiwanya.Ratusan warga hadir memberikan penghormatan terakhir. Dari jajaran pejabat, tampak Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin, Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, Wali Kota Batu Nurrochman, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, dan jajaran perangkat daerah yang ikut larut dalam duka.Sebelum dimakamkan, jenazah Almarhumah disholatkan di Masjid Quba.
Doa mengalir dari keluarga, kerabat, hingga masyarakat yang selama ini mengenal beliau sebagai sosok yang hangat dan tak kenal lelah dalam pengabdian.Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, tak kuasa menyembunyikan rasa kehilangan ketika ditemui usai pemakaman.
“Atas nama pribadi dan masyarakat, kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik dan kuburnya dilapangkan,” ucapnya.
Ali mengenang almarhumah sebagai figur yang benar-benar mencurahkan hidupnya untuk masyarakat.“Beliau sering mengorbankan waktu dan kesehatannya demi mendampingi kegiatan masyarakat, bahkan mendampingi Pak Wali. Itu yang selalu saya ingat—pengabdian beliau tidak pernah setengah hati,” ungkapnya.
Hari ini, Kota Malang bukan hanya kehilangan sosok Ketua TP PKK yang aktif dan dekat dengan warga. Tapi juga menyaksikan bagaimana sebuah perpisahan mengungkap sisi paling manusiawi dari pemimpinnya, seorang lelaki yang kehilangan cinta sejatinya.
Dan di antara pelukan anak dan cucunya, Wahyu Hidayat menutup hari dengan satu kenyataan pahit yang harus ia terima—bahwa perpisahan kadang datang tanpa memberi waktu untuk bersiap.





